Oleh :
Abu Salma al-Atsari
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبّ العَالَمِين، وَالصَّلاةُ وَالسَّلامُ عَلى سَيِّدِ المُرْسَلِين _ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ _، وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِين، وَلا عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِين، وَالعَاقِبَةُ لِلمُتَّقِين. أَمَّا بَعْد:
Pada hari Ahad, 1 Oktober 2006, seorang al-Akh yang bernama Hafizh Abdurrahman wafaqohullahu wa iyaya ila sabilil haq mengirim email kepada saya yang menjelaskan ada beberapa syubhat dan tuduhan terhadap dakwah salafiyah dari beberapa oknum atau fihak yang ‘tidak suka’ ataupun ‘tidak faham’ dengan dakwah salafiyah. Tuduhan-tuduhan tersebut terangkum dalam poin-poin di bawah ini, dan setelah itu insya Alloh akan saya tanggapi sesuai dengan kemampuan yang saya miliki :
- Pada Bedah buku “SIAPA TERORIS? SIAPA KHAWARIJ?”, Ahad, 3 September 2006, di Widyaloka Convention Hall Universitas Brawijaya, Malang. Abduh Zulfikar Akaha, Lc mengatakan bahwa pemakaian kata 'ana salafiy' adalah muhdats (sesuatu yang baru). Tidak ada satu ulama pun, terutama sebelum Ibnu Taimiyah, yang menisbatkan dirinya pada salafiy. Bahkan Ibnu Taimiyah dan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab pun tidak pernah menyebut dirinya sebagai 'as-salafiy'. Dalam kitab-kitab mu'jam atau kamus-kamus Arab, seperti; Mukhtar Ash-Shihah, Lisan al-'Arab, al-Qamus al-Muhith, dan al-Munjid; pun tidak ada disebutkan kata 'as-salafiy'.
Pada acara dan tempat yang sama, Halawi Makmun (MMI) mengatakan bahwa perselisihan yang terjadi di kalangan salafi bukan dikarenakan mereka berbeda pendapat, tetapi karena berbeda 'PENDAPATAN' (saya (Hafizh Abdurrahman) katakan: subhanallah...lancang sekali mereka ini, seolah-olah orang-orang salafy sangat tamak akan harta). Mereka (salafy) ini sering sekali mengatasnamakan Ibnu Taimiyah, padahal setelah dicek, ternyata Ibnu Taimiyah tidak mengatakan seperti yang mereka katakan. Bahkan banyak sekali pendapat mereka yang berbeda dengan Ibnu Taimiyah. - Abduh juga berkata,"Salafi gaya baru ala Syaikh Rabi' ini baru muncul paska Perang Teluk. Semua buku-buku, makalah-makalah, dan fatwa-fatwa yang mendiskreditkan IM dan para tokohnya, serta jamaah-jamaah Islam secara umum, terutama yang punya perhatian terhadap politik; baru muncul paska Perang Teluk? (Bedah buku "SIAPA TERORIS?SIAPA KHAWARIJ? Ahad, 26 Agustus 2006, di Masjid Dakwah Islam (Pusat Studi Islam Al-Manar) Matraman, Jakarta Timur. Pustaka Al-Kautsar bekerjasama dengan Dewan Pengurus Cabang Partai Keadilan Sejahtera Matraman.)
- Sementara Budi Azhari (Dewan Syariah Wilayah DPW PKS DKI Jakarta) mengatakan meskipun Syaikh Muqbil adalah orang yang paling mendekati dengan Syaikh Rabi; dalam hal kekasaran dan ketajaman lisannya, namun Syaikh Muhammad Aman Al-Jami (guru Syaikh Rabi') masih lebih kasar daripada Syaikh Rabi'. Kelompok salafi ini mempunyai kelemahan dan kesalahan yang sangat fundamental dalam manhajnya. (Pada waktu dan acara yang sama).
- "Salafy senantiasa menjadikan ulama-ulama Salafy sebagai rujukan dalam segala persoalan agama, diantaranya: Syaikh Rabi, Syaikh Bin Baz & Syaikh Albani. Dengan mengutamakan pendapat Syaikh Rabi dibanding Syaikh yang lain..." menurut Abduh. (Bedah buku "SIAPA TERORIS? SIAPA KHAWARIJ? Ahad, 13 Agustus 2006, di Masjid Al-Furqan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jl.Kramat Raya 45 Jakarta Pusat).
- Fauzan al-Anshori (Ketua Departemen Data & Informasi MMI) mempertanyakan posisi Luqman Ba'abduh, apakah Luqman berada diantara Goerge Bush (kalangan kafir)? Atau berada yang oleh Amerika disebut Teroris, seperti: Hamas, Al-Qaeda dan gerakan Islam lainnya. (Acara dan tempat yang sama).
- Sedangkan Halawi menegaskan Salafy Yamani (Luqman Ba'abduh cs) adalah teroris dan khawarij sesungguhnya! (Acara dan tempat yang sama).
Demikian inilah beberapa ucapan yang bernada tuduhan dan syubuhat yang dilontarkan, dan sesungguhnya masih banyak lagi yang tidak terangkum di dalam poin di atas yang kesemuanya dilontarkan pada acara Bedah Buku “Siapa Teroris? Siapa Khowarij?” karya Ustadz Abduh Zulfidar Akaha, Lc. yang bermaksud membantah tulisan Ustadz Luqman bin Abdillah Ba’abduh yang berjudul “Mereka Adalah Teroris”.
Di dalam risalah ini, saya akan sedikit memberikan klarifikasi dan tanggapan terhadap tuduhan-tuduhan di atas, dengan izin Alloh tentunya, yang mungkin sebagaimana dikatakan di dalam al-Qur’an :
لاَ يُسْمِنُ وَلاََ يُغْنِيْ مِنْ جُوْع
(Tidaklah mengenyangkan dan tidak pula dapat menghilangkan dahaga)
Namun sebagaimana kata seorang yang bijak :
مَا لاَ يُدْرَكُ كُلُّهُ لاِ يُتْرَكُ جُلُّهُ
(Sesuatu yang tidak dapat diperoleh seluruhnya tidaklah ditinggalkan sebagiannya).
Karena sesungguhnya masih banyak para asatidzah dan thullabul ilmi yang lebih mutamakkin dari saya lebih yang lebih berhak untuk menjawab tuduhan-tuduhan ini dibanding diri saya. Apalagi yang akan saya bantah tersebut adalah bukan orang-orang sembarangan, kebanyakan mereka memiliki deretan gelar Lc, MA atau semacamnya. Dan mereka pun telah terbiasa di dunia dakwah, jurnalistik dan diskusi ilmiah. Banyak di antara mereka telah mengenyam pendidikan di timur tengah, mengambil ilmu dari para profesor dan doktor yang ahli di bidangnya. Namun sebagaimana pepatah :
لاَ يَحْمُدُ السَّيْفُ كُلَّ مَنْ حَمَلَهُ
Pedang itu tidak memuji setiap orang yang membawanya
Sungguh benar ucapan di atas, karena tidaklah setiap orang yang menyandang pedang otomatis orang tersebut adalah ahli pedang yang bisa mempergunakan pedangnya. Sesungguhnya gelar Lc, MA atau DR pun, bukanlah ibrah di dalam menilai kebenaran, keilmiahan dan tingkat keilmuan seseorang. Gelar-gelar itu bukanlah ibrah, namun yang menjadi ibrah adalah kesesuaian di atas al-Haq. Betapa banyak orang-orang memiliki gelar namun gelar-gelar yang dimilikinya tidak memuji dirinya..
Adapun tuduhan-tuduhan mereka, sebenarnya tuduhan yang telah basi namun direpro ulang. Walau mereka bungkus dengan kata-kata indah nan lembut, namun sesungguhnya apa yang ada di dalam hati mereka lebih dahsyat lagi kebencian dan permusuhannya.
وَلَوْ لاَ احْتِقَارُ الأُسَدِ شَبَّهْتُهُمْ بِهَا وَلَكِنَّهَا مَعْدُودَةٌ فِيْ البَهَائِمِ
Seandainya bukan penghinaan terhadap singa maka saya serupakan mereka dengannya
Akan tetapi singa jarang didapat diantara binatang ternak
Semoga Alloh swt memberikan petunjuk dan taufik-Nya bagiku, bagi mereka dan bagi kaum muslimin seluruhnya, dan semoga apa yang saya lakukan ini dapat sedikit memberikan pencerahan dan klarifikasi bagi orang-orang yang bingung dan termakan oleh syubuhat di atas. Semoga risalah ini juga dapat menjadi nasehat terutama bagi diri saya sendiri, para penuduh di atas, pengirim berita ini (al-Akh Hafizh Abdurrahman) dan seluruh kaum muslimin pada umumnya.
Tuduhan Pertama :
Abduh Zulfikar Akaha, Lc mengatakan bahwa pemakaian kata 'ana salafiy' adalah muhdats (sesuatu yang baru). Tidak ada satu ulama pun, terutama sebelum Ibnu Taimiyah, yang menisbatkan dirinya pada salafiy. Bahkan Ibnu Taimiyah dan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab pun tidak pernah menyebut dirinya sebagai 'as-salafiy'. Dalam kitab-kitab mu'jam atau kamus-kamus Arab, seperti; Mukhtar Ash-Shihah, Lisan al-'Arab, al-Qamus al-Muhith, dan al-Munjid; pun tidak ada disebutkan kata 'as-salafiy'.
Tanggapan :
Ucapan al-Ustadz Abduh –hadahullahu- di atas adalah suatu perkataan yang ijmal perlu ditafshil. Sebelum masuk ke dalam bantahan, saya ingin menyebutkan dulu istilah salaf dan definisinya menurut bahasa dan istilah, dan saya yakin –insya Alloh- al-Ustadz Abduh telah mengetahuinya :
Kata salaf secara bahasa artinya adalah :
Ibnu Faris berkata di dalam Mu’jam Maqoyisil Lughah :
سلف، السين واللام والفاء أصل يدل على تقدم وسبق، من ذلك السلف الذين مضوا، والقوم السلاف: المتقدمون
“Salaf, sin lam dan fa` asalnya menunjukkan kepada arti yang telah mendahului dan telah lalu. Dengan demikian as-Salaf artinya adalah orang-orang yang telah lalu. Kaum as-Salaf artinya adalah orang-orang yang terdahulu.”
Raghib al-Ashfahani berkata di dalam al-Mufrodaat :
السلف: المتقدم، قال الله تعالى: فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفاً وَمَثَلاً لِلْآخِرِينَ {الزخرف} أي : معتبرا متقدما ... ولفلان سلف كريم:أي آباء متقدمون، جمعه: أسلاف وسلوف
As-Salaf artinya adalah al-Mutaqoddam (yang terdahulu). Alloh Ta’ala berfirman : “Maka kami jadikan mereka sebagai salaf (pelajaran) dan contoh bagi orang-orang yang belakangan.” (Az-Zukhruf : 56), artinya yaitu sebagai contoh dari orang terdahulu… Apabila dikatakan, si Fulan memiliki salaf yang mulia artinya adalah dia memiliki kakek moyang yang terdahulu. Jamak (plural)-nya adalah aslaaf dan suluuf.
Ibnu Manzhur berkata di dalam Lisanul ‘Arob :
والسلف –ايضا- من تقدمك من آبائك وذوي قرابتك الذين هم فوقك في السبق والفضل ، ولهذا سمي الصدر الأول من التابعين: السلف الصالح
Dan as-Salaf juga berarti orang-orang yang mendahuluimu baik dari bapak-bapakmu dan kaum kerabatmu yang mana mereka berada di atasmu dari sisi usia dan keutamaan. Dengan demikian dinamakan generasi awal dari para tabi’in sebagai as-Salaf ash-Sholih.
Dari sini menunjukkan bahwa di dalam kamus-kamus yang mu’tabar ada istilah salaf. Adapun tuduhan al-Ustadz bahwa pada kamus-kamus tersebut tidak ada istilah as-Salafiy bukanlah artinya bahwa istilah tersebut adalah istilah baru dan tidak ada mutlak di dalam kamus-kamus sebagaimana disebutkan oleh al-Ustadz. Karena kata as-Salafiy bukanlah kata dasar yang seringkali dimuat di dalam kamus-kamus tersebut, sebagaimana beberapa perubahan (shorof) kata tidak termuat di dalam kamus-kamus tersebut.
Bahkan di dalam hadits Nabi pun Rasulullah mempergunakan kata salaf sebagaimana ucapan Nabi saw kepada puterinya Fathimah az-Zahra` :
فإنه نعم السلف أنا لك
“Sesungguhnya sebaik-baik salaf bagimu adalah aku” (HR Muslim)
Adapun menurut istilah, makna salaf adalah sebagaimana perkataan al-Qolsyani rahimahullahu di dalam Tahrir al-Maqolah fi Syarhir Risalah :
السلف الصالح، و هو الصدر الأول الراسخون فى العلم، المهتدون بهدي النبى صلى الله عليه وسلم، الحافظون لسنته، اختارهم الله تعالى لصحبة نبيه، وانتخبهم لإقامة دينه، ورضيهم أئمة للأمة، وجاهدوا فى سبيل الله حق جهاده، وأفرغوا فى نصح الأمة ونفعهم، وبذلوا فى مرضاة الله أنفسهم
As-Salaf ash-Shalih adalah adalah generasi pertama yang kokoh keilmuannya, yang berpetunjukan dengan petunjukan Nabi saw, yang senantiasa menjaga sunnah beliau saw, Alloh Ta’ala memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya dan untuk menegakkan agama-Nya. Para imam pun ridha dengan mereka dan mereka telah berjuang di jalan Alloh dengan sebenar-benarnya perjuangan, mereka menyeru umat dengan nasehat dan memberi manfaat kepada mereka, dan mereka juga mengerahkan jiwa mereka untuk menggapai keridhaan Alloh.
Thufail al-Ghonawi rahimahullahu pernah berkata meratapi kaumnya :
مضوا سلفا قصد السبيل عليهم وصرف المنايا بالرجال تقلّب
Pendahulu kita telah lewat dan kitapun akan mengikuti mereka
Kita akan menjadi sepertinya terhadap orang-orang setelah kita
Yaitu, kita akan mati sebagaimana mereka mati, dan kita akan menjadi salaf (pendahulu) bagi orang-orang setelah kita sebagaimana mereka menjadi salaf bagi kita.
Dari al-Hasan al-Bashri rhm, beliau berdo’a di dalam sholat Jenazah terhadap seorang anak kecil :
اللهم اجعله لنا سلفا
“Ya Allah jadikanlah dia salaf bagi kami.”
Oleh karena itulah, generasi pertama dinamakan dengan as-Salaf ash-Sholih.
Rasulullah saw, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, mereka adalah salaful ummah (pendahulu ummat), dan siapa saja yang menyeru kepada apa yang diserukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, mereka juga salaful ummah. Serta siapa saja yang menyeru kepada apa yang diserukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka mereka berada di atas manhaj as-Salaf ash-Sholih.
Adapun kata Salafiyah adalah nisbat (afialiasi) kepada salaf, intisab terhadap manhaj yang ma’shum (terjaga) yang mana penisbatan ini adalah suatu nisbat yang terpuji tidak tercela, karena penisbatan ini adalah nisbat kepada manhaj pendahulu yang shalih lagi lurus, bukanlah nisbat kepada manhaj bid’ah yang baru. Sebagaimana perkataan as-Sam’ani rahimahullahu di dalam al-Ansaab (VII/104) : “Salafi adalah nisbat kepada salaf dan menelusuri jalan mereka”.
Berikut ini adalah perkataan para ulama tentang terpujinya nisbat kepada salaf dan salafiyah :
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rhm berkata : “Tidak tercela orang yang menampakkan madzhab salaf dan dia menisbatkan diri kepadanya serta berbangga dengan madzhab salaf, bahkan wajib menerima hal tersebut menurut kesepakatan karena tidaklah madzhab salaf kecuali benar”. (Majmu’ Fatawa IV:149). Ucapan Syaikh, “menisbatkan diri kepadanya” maksudnya mensibatkan diri kepada madzhab salaf, dan sebutan nisbat kepada madzhab salaf adalah salafiy.
- Imam Adz-Dzahabi rhm berkata : “Yang dibutuhkan oleh seorang Al-Hafidz (ahli hadits) adalah ketakwaan, kecerdasan, kepandaian dalam bahasa arab dan nahwu, kesucian hati, pemalu serta menjadi Salafiy…”. (Siyar A’laamin Nubalaa` XIII:380). Syaikh Salim al-Hilali hafizhahullahu di dalam ceramah beliau Ushulus Sunnah karya Imam Ahmad, mengatakan bahwa Imam Dzahabi menyebutkan kata salafiy lebih dari 200 kali di dalam bukunya ini.
- Imam Ibnu Baz rhm berkata : “Sesungguhnya salaf adalah generasi pertama dan yang mulia dari umat ini. Barangsiapa yang mengikuti jejak mereka dan berjalan diatas metode mereka maka dialah as-Salafiy dan barangsiapa yang menyelisihi mereka maka dia adalah al-kholaf.” (Ta’liq Aqidah Hamawiyah oleh Syaikh Hamd at-Tuwaijiri).
- Imam Ibnu Utsaimin rhm berkata : “Salafiyyah adalah ittiba’ (penauladanan) terhadap manhaj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, dikarenakan mereka adalah salaf kita yang telah mendahului kita. Maka, ittiba’ terhadap mereka adalah salafiyyah.” (Liqo`ul Bab al-Maftuuh no 1322).
- Imam al-Albani rhm berkata : “Sesungguhnya nisbat ini (salafiyah) bukanlah nisbat kepada perseorangan atau orang-orang tertentu, sebagaimana penisbatan yang dilakukan oleh jama’ah-jama’ah yang ada di bumi Islam saat ini. Nisbat ini (salafiyah) sesungguhnya bukanlah nisbat kepada seorang individu atau berpuluh-puluh individu lainnya, namun nisbat ini adalah nisbat kepada ishmah (keterjagaan), karena kaum as-Salaf ash-Shalih sangat tidak mungkin mereka bakal bersepakat di atas kesesatan.” (as-Salaf was Salafiyah oleh Syaikh Salim al-Hilali)
- Lajnah Daimah mengatakan : "Salafiyah adalah nisbat kepada salaf dan salaf itu adalah para sahabat Rasulullah serta para imam petunjuk dari tiga generasi Islam yang pertama yang telah dipuji oleh Rasulullah dalam sabda beliau :
خَيرُ النَاسِ قَرنِي ثُمَّ الذِينَ يَلُونَهُم ثُمَّ الذِينَ يَلُونَهُم
"Sebaik-baik generasi adalah generasiku (sahabat) kemudian setelah mereka (tabi'in) kemudian setelah mereka (Tabi'ut tabi'in)" (HR.Bukhori, Muslim dan Ahmad). Salafiyun jamak dari Salafi yang merupakan nisbat kepada salaf yang artinya orang-orang yang berjalan diatas manhaj salaf dengan mengikuti Al-Qur'an dan sunnah serta berdakwah kepada keduanya dan mengamalkannya, maka mereka itulah yang disebut sebagai ahlu sunnah wal jama'ah". (Fatawa al-Lajnah no 1361)
- Dan masih banyak lagi.
Kesimpulan : nisbat kepada salaf adalah suatu hal yang syar’i, tidak tercela dan juga tidak muhdats (bid’ah). Maka batal-lah dengan demikian klaim al-Ustadz Abduh bahwa istilah salafiy adalah muhdats.
Adapun ucapan al-Ustadz Abduh yang mengatakan : “Tidak ada satu ulama pun, terutama sebelum Ibnu Taimiyah, yang menisbatkan dirinya pada salafiy” adalah perkataan yang tertolak dan rancu. Karena tidak jelas al-Ustadz memahami kata as-Salafiy di sini sebagai apa? Sebagai nisbat kepada madzhab-kah? Ataukah sebagai nisbat kepada kelompok?
Apabila al-Ustadz menafikan sebagai nisbat kepada madzhab salaf, maka berarti al-Ustadz telah jatuh kepada celaan terhadap mereka –para ulama sebelum Ibnu Taimiyah-. Karena apabila mereka tidak bernisbat kepada madzhab salaf maka kepada apakah mereka bernisbat???
Padahal Abdullah bin Mas'ud rad seorang sahabat Rasulullah saw berkata : "Barangsiapa yang ingin mencari suri tauladan yang baik maka jadikan yang telah meninggal sebagai suri tauladan, karena yang masih hidup tidak bisa dijamin selamat dari fitnah. Mereka adalah para sahabat Muhammad r. Mereka adalah semulia-mulianya umat ini, yang paling baik hatinya, yang paling mendalam ilmunya, yang paling sedikit berlebih-lebihan. Mereka adalah sekelompok orang yang Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya serta untuk menegakkan agama-Nya. Maka kenalilah jasa-jasa mereka dan ikuti jejak mereka serta berpegang teguhlah dengan akhlak serta agama mereka karena mereka berada diatas jalan yang lurus". (Syarh Ath-Thahawiyah II;546 oleh Ibnu Abil Izz)
Perhatikanlah!!! Siapakah yang dimaksud oleh Ibnu Mas’ud rad sebagai orang yang telah meninggal??? Apakah bukan salaf, baik dari yang didefinisikan dari sisi bahasa maupun istilah??? Sungguh jika yang dimaksud bukan salaf maka siapa lagi yang dimaksud???
Imam Al-'Auza'i rhm berkata : "Bersabarlah dirimu diatas sunnah, berhentilah sebagaimana mereka berhenti, dan katakanlah seperti apa yang mereka katakan serta cegahlah dari apa yang mereka cegah. Telusurilah jejak salafush sholeh". (Syarhu ushul I'tiqod Ahlis Sunnah wal Jama'ah 1/154 oleh Al-Lalika'i).
Kepada siapa Imam al-Auza’i memaksudkan ucapannya? Kepada madzhab salaf ataukah selainnya???
Imam Ahmad bin Hambal rhm berkata di dalam awal kitabnya Ushulus Sunnah : "Termasuk prinsip aqidah kita adalah berpegang teguh dengan metode para sahabat Rasulullah saw serta mengikuti jejak mereka."
Apakah para sahabat bukan termasuk generasi salaf shalih yang seharusnya kita mengikuti jejak mereka??
Dan masih banyak lagi ucapan para imam ahlus sunnah sebelum Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang mana mereka memuji dan menisbatkan diri kepada madzhab salaf, lantas bagaimana bisa al-Ustadz Abduh menafikan penisbatan mereka kepada madzhab salaf?!! Apakah al-Ustadz membedakan antara penisbatan kepada madzhab salaf dengan salafiy??? Jika demikian, maka al-Ustadz tampaknya perlu belajar Bahasa Arab lagi saja…
Ataukah mungkin ustadz tidak mau mengatakan bahwa para sahabat dan ulama-ulama yang mengambil ilmu dari para sahabat bukanlah generasi as-Salaf ash-Shalih?!! Yang mana dengan demikian penisbatan salafiy adalah penisbatan yang keliru, muhdats dan bid’ah. Ataukah ustadz punya definisi sendiri terhadap istilah salaf sehingga nisbat kepada salaf tidak benar disebut dengan salafiy?!!
Apabila al-Ustadz Abduh berkilah : “yang saya maksud dengan salafiy bukanlah madzhab salaf seperti yang Anda katakan, namun yang saya maksud adalah suatu kelompok tertentu…” atau dengan kata lain al-Ustadz mengatakan bahwa salafiy adalah nisbat kepada kelompok tertentu.
Maka saya katakan : kelompok yang bagaimanakah yang Anda maksudkan wahai al-Ustadz?!! Apakah kelompok yang mempunyai pendiri, asas tersendiri yang mana al-Wala` wal Baro` ditegakkan dengannya, keanggotaan khusus dan lain sebagainya… jika demikian ini maksudnya, maka saya katakan bahwa ini bukanlah salafiyah sedikitpun walaupun mereka mengklaim sebagai salafiy atau mencatut nama salafiy. Karena ibrah bukanlah pada nama, namun ibrah adalah pada hakikatnya dan tidaklah setiap orang yang mendakwakan dirinya kepada sesuatu maka otomatis dia akan langsung berada di atasnya… tidak!!! Sekali kali tidak!!!
كل يدعي وصلا بليلى وليلى لا تقر لهم بذاك
Semua mengaku-ngaku punya hubungan dengan Laila
Namun Laila memungkiri pengakuan-pengakuan mereka tersebut
Betapa banyak orang yang menggunakan nama sebagai Ahlus Sunnah namun Ahlus Sunnah berlepas diri darinya karena banyaknya kebid’ahan padanya. Betapa banyak pula orang yang mengaku-ngaku sebagai salafiy namun aqidah dan amalnya tidak menunjukkan akan kesalafiyahannya…
Oleh karena itu, saya tanyakan kembali kepada Anda wahai al-Ustadz, salafiy yang bagaimanakah yang Anda maksudkan??? Apakah yang Anda maksudkan adalah adanya sebagian orang yang mencatut nama salafiy kemudian dia melakukan kesalahan, lantas yang Anda salahkan adalah istilah salafiy-nya bukan pelakunya?!! Kemudian Anda kritisi pula istilah salafiy ini dan Anda katakan muhdats dan Anda nafikan eksistensi nisbat para ulama sebelum Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kepada madzhab ini?!!
Jika benar demikian, maka berarti Anda telah membedakan antara istilah salafiy sebagai nisbat kepada as-Salaf ash-Shalih dengan nisbat kepada madzhab sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, padahal tidak ada beda antara keduanya dan hal ini adalah terang seterang matahari di siang bolong.
Jika al-ustadz mengatakan bahwa nisbat kepada salafiy adalah muhdats, padahal nisbat ini adalah nisbat kepada generasi terbaik dan nisbat kepada manhaj mereka yang ma’shum. Lantas bagaimana dengan nisbat kepada individu tertentu yang tidak ma’shum, seperti Syafi’iiyah, Malikiyah, Hanabilah, Hanafiyah, Maturidiyah, Asy’ariyah dan semacamnya?!! Padahal istilah ini lebih layak untuk dikatakan sebagai muhdats dan tafriq (pemecahbelahan). Namun, bukankah para imam mempergunakan istilah ini –atau ulama setelahnya menisbatkannya-, seperti Ibnu Abil Izz al-Hanafi, Ibnu Rojab al-Hanbali, al-Qurofi al-Maliki, Jalaludin as-Suyuthi asy-Syafi’i dan lain sebagainya.
Padahal, mereka semua ini adalah imam Ahlus Sunnah –insya Alloh-, mereka semua senantiasa berusaha untuk menauladani generasi as-Salaf ash-Shalih. Dengan demikian, nisbat kepada seluruh imam salaf dan para imam yang menauladani salaf adalah lebih terpuji, mulia dan selamat. Dan tidak ada kata yang lebih layak dan tepat untuk menyebut penauladan dan nisbat kepada as-Salaf selain daripada salafiy!!!
Jika al-Ustadz kembali mengatakan : “yang saya maksud adalah penyebutan nama as-Salafy, seperti penyebutan nama Fulan dan Fulan as-Salafy. Hal yang demikian ini kan tidak pernah dilakukan oleh ulama-ulama terdahulu.”
Maka saya katakan, Anda benar wahai ustadz. Namun hal ini bukan artinya terlarang secara mutlak, namun ada qoyid (pengikat) dan syaratnya. Penyebutan nama “as-Salafy” dengan maksud tazkiyatun lin Nafsi (membanggakan diri) adalah tercela. Sebagaimana yang diutarakan oleh Fadhilatus Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan :
فالتسمي ( سلفي ، أثري ) أو ما أشبه ذلك ، هذا لا أصل له ، نحن ننظر إلى الحقيقة ولا ننظر إلى القول والتسمي والدعاوى ، قد يقول إنه سلفي وما هو بسلفي ، أو أثري وما هو بأثري ، وقد يكون سلفياً أو أثرياً وهو ما قال إنه أثري أو سلفي . فالنظر إلى الحقائق لا إلى المسميات ولا إلى الدعاوى...
“Penamaan salafiy, atsariy atau yang semisal dengannya, hal ini sesungguhnya suatu hal yang tidak ada asalnya. Kita menilai dari hakikatnya bukan dari ucapan, penamaan ataupun dakwaan belaka. Terkadang ada orang mengatakan dia salafiy padahal dia bukan salafiy, dia atsariy padahal dia bukan atsariy. Terkadang pula ada orang yang (benar-benar) salafi atau atsari namun ia tidak pernah mengatakan dirinya atsari atau salafi. Karena itu penilaian itu dari hakikatnya bukan dari penamaan atau dakwaan belaka…” (Pengajian Syarh Aqidah ath-Thohawiyah, 1425 H, dinukil dari Kasyful Khola`iq karya al-Ushaimi)
Fadhilatus Syaikh juga berkata :
فلا حاجة إنك تقول : " أنا سلفي ، أنا أثري " أنا كذا ، أنا كذا ، عليك أن تطلب الحق وتعمل به تصلح النية ، والله الذي يعلم – سبحانه - الحقائق
“Maka tidak ada perlunya kamu mengatakan “aku salafiy”, “aku atsariy”, “aku ini” atau “aku itu”. Namun yang wajib atas kalian adalah mencari kebenaran dan mengamalkannya untuk meluruskan niat. Hanya Alloh swt-lah yang mengetahui hakikat keadaan sebenarnya.” (sumber yang sama).
Adapun jika maksudnya adalah sebagai penisbatan kepada madzhab salaf, sebagai pengakuan bahwa madzhab salaf adalah madzhab yang paling haq, bukan dalam rangka tazkiyatun lin nafsi apalagi hizbiyah. Untuk membedakan diri dari firqoh-firqoh yang sedang berkembang pesat di zaman ini, untuk membedakan diri dari hizbiyah yang membinasakan dimana tiap hizb bangga dengan apa yang ada pada mereka masing-masing, maka penisbatan dan penyebutan kata as-salafiy, al-Atsariy, as-Sunniy atau yang semisalnya adalah suatu pensibatan terpuji. Selama dia berupaya untuk benar-benar mengikuti manhaj salaf dalam segala hal, baik aqidah, manhaj, fikih, akhlak dan selainnya. Selama ciri-ciri berikut ini terhimpun pada dirinya, yaitu ciri-ciri yang disebutkan oleh Syaikh Abdus Salam bin Qasim al-Husaini as-Salafy di dalam kitabnya Irsyadul Barriyah ila Syar’iyyatil Intisab Lis-Salafiyyah sebagai berikut :
1- Menjadikan Al-Qur'an dan sunnah sebagai pedoman hidup dalam segala perkara.
2- Memahami agama ini sesuai dengan pemahaman para sahabat terutama dalam masalah aqidah.
3- Tidak menjadikan akal sebagai landasan utama dalam beraqidah.
4- Senantiasa mengutamakan dakwah kepada tauhid ibadah (Seruan hanya Allah satu-satunya Dzat yang berhak disembah).
5- Tidak berdebat kusir dengan ahli bid'ah serta tidak bermajlis dan tidak menimba ilmu dari mereka.
6- Berantusias untuk menjaga persatuan kaum muslimin serta menyatukan mereka diatas Al-Qur'an dan sunnah sesuai pemahaman salafush sholeh.
7- Menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah saw dalam bidang ibadah, akhlak dan dalam segala bidang kehidupan hingga merekapun terasing.
8- Tidak fanatik kecuali hanya kepada Al-Qur'an dan sunnah.
9- Memerintahkan kepada yang baik dan mencegah dari kemungkaran.
10- Membantah setiap yang menyelisihi syariat baik dia seorang muslim atau non muslim.
11- Membedakan antara ketergelinciran ulama ahli sunnah dengan kesesatan para dai-dai yang menyeru kepada bid'ah.
12- Selalu taat kepada pemimpin kaum muslimin selama dalam kebaikan, berdoa untuk mereka serta menasehati mereka dengan cara yang baik dan tidak memberontak atau mencaci-maki mereka.
13- Berdakwah dengan cara hikmah.
14- Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu agama yang bersumberkan kepada Al-Qur'an dan sunnah serta pemahaman salaf, sekaligus meyakini bahwa umat ini tidak akan menjadi jaya melainkan dengan ilmu tersebut.
15- Bersemangat dalam menjalankan Tashfiyah (membersihkan Islam dari kotoran-kotoran yang menempel kepadanya seperti syirik, bid'ah, hadits-hadits lemah dan lain sebagainya) dan Tarbiyah (mendidik umat diatas Islam yang murni terutama dalam bidang tauhid).
Dan seterusnya…
Maka yang demikian ini adalah tidak mengapa, tidak tercela dan bahkan terpuji sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Bazz rhm tatkala ditanya oleh pertanyaan sebagai berikut : “Bagaimana pendapat Anda terhadap orang yang menamakan dirinya as-Salafiy dan al-Atsariy, apakah ini termasuk tazkiyatun lin nafsi (memuji diri)? Beliau rhm menjawab : “Apabila dia benar-benar seorang Atsariy atau Salafiy maka tidak mengapa. Hal ini seperti yang pernah dikatakan oleh para salaf dahulu : Fulan Salafiy, fulan Atsariy. Ini termasuk pujian yang harus dan wajib”. (Hasyiyah / catatan kaki Al-Ajwibah Al-Mufidah 'an As`ilatil Manahij al-Jadiidah hal.17 oleh Syaikh Sholeh Al-Fauzan hafizhahullah).
Dengan demikian memutlakkan pelarangan penyebutan as-Salafy atau al-Atsariy adalah muhdats, terlarang, bagian dari tazkiyatun lin Nafsi adalah tidak tepat dan keliru.
Apabila al-Ustadz Abduh berkata : “Apabila nisbat salafiy itu benar, lantas mengapa banyak salafiyin yang tidak berakhlak sebagaimana akhlak salafiy, mereka mudah menvonis sesat siapa saja yang menyelisihi mereka. Mereka fanatik dengan guru, tokoh atau ulama-ulama mereka. Siapa saja yang menyelisihi pendapat guru, tokoh atau ulama mereka maka telah sesat.”
Maka saya jawab : Sesungguhnya telah lewat penjelasannya bahwa tidak setiap orang yang mengaku-ngaku maka pengakuannya selamat. Pengaku-ngakuan tidaklah berfaidah apa-apa, namun yang berfaidah adalah hakikat atau realita sebenarnya, apakah selaras dengan manhaj salaf ataukah tidak.
Adapun akhlak salafiyin adalah sebagaimana yang telah disebutkan oleh Syaikh Samir Mabhuh al-Kuwaiti di dalam risalahnya yang berjudul Hiyas Salafiyyah fa’rifuuha :
“Mereka adalah manusia yang paling baik akhlaknya, paling banyak bersikap lembut, lapang dan tawadhu’-nya. Mereka adalah yang paling bersemangat berdakwah menyeru kepada akhlak yang mulia dan amal yang paling bagus, dengan wajah yang ceria, menyebarkan salam, memberikan makan, menahan marah, menghilangkan kesusahan manusia, mendahulukan kepentingan kaum muslimin dan berusaha memenuhi kebutuhan mereka. Mereka senantiasa mengerahkan daya upaya di dalam menolong mereka, bersikap lembut dengan fakir miskin, bersikap kasih sayang terhadap tetangga dan kerabat, lemah lembut dengan penuntut ilmu, menolong dan berbuat kebajikan kepada mereka, berbakti kepada orang tua dan ulama dan memelihara kedua orang tua (di waktu tuanya). Alloh Ta’ala berfirman :
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Sesungguhnya pada dirimu (Muhammad) terdapat akhlak yang agung” (al-Qolam : 4) dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :
((أثقل شئ فى الميزان الخلق الحسن))
“Sesuatu yang paling berat di timbangan adalah akhlak yang baik.” Shahih diriwayatkan oleh Imam Ahmad.” (Hiyas Salafiyyah oleh Samir al-Kuwaiti).
Namun bukan artinya tidak ada sikap keras dan tegas di dalam dakwah. Terkadang sikap keras dan tegas diperlukan di dalam dakwah apabila situasi dan kondisi mengharuskannya dan mashlahat yang ditimbulkannya semakin besar. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Bazz rhm :
ولا شك أن الشريعة الإسلامية جاءت بالتحذير من الغلو في الدين ، وأمرت بالدعوة إلى سبيل الحق بالحكمة والموعظة الحسنة والجدال بالتي هي أحسن ، ولكنها مع ذلك لم تهمل جانب الغلظة والشدة في محلها حيث لا ينفع اللين والجدال بالتي هي أحسن
“Tidak diragukan lagi bahwa syariat Islam datang dengan memperingatkan dari sikap ekstrim di dalam beragama, dan memerintahkan untuk berdakwah ke jalan al-Haq dengan hikmah, pelajaran yang baik dan diskusi dengan cara yang lebih baik. Walau demikian tidaklah hal ini berarti meniadakan sikap tegas dan keras yang pada tempatnya apabila kelemahlembutan dan diskusi dengan cara yang lebih baik tidak bermanfaat lagi.” (Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah III:204 oleh Imam Ibnu Bazz).
Dengan demikian, berdakwah dengan cara keras terus, atau lembut terus adalah suatu kesalahan dan kejahilan akan syariat Islam yang mulia ini. Oleh karena itu, seorang salafiy adalah orang yang mampu menempatkan dirinya, kapan dia harus bersikap keras dan kapan harus bersikap lemah lembut. Sesungguhnya tidaklah akan memudharatkan celaan para pencela kepada mereka, karena orang-orang yang berdakwah dengan jalan lemah lembut saja akan menuduh salafiy sebagai orang yang keras, sedangkan di sisi lain, orang-orang yang berdakwah dengan keras saja akan menuduh salafiy sebagai orang yang lunak (tamyi’).
Adapun tuduhan bahwa salafiyun mudah menvonis sesat kepada siapa saja yang menyelisihi mereka, adalah tuduhan yang tidak benar. Karena salafiy sejati tidaklah menvonis sesat, bid’ah, fasik bahkan kafir melainkan dengan ilmu dan kehati-hatian. Mereka tidaklah akan menerapkan hukum sebelum menegakkan syarat-syaratnya dan menghilangkan penghalang-penghalangnya. Mereka senantias berpijak atas dasar ilmu dan bashiroh. Apabila ada sekelompok kaum yang menyelisihi hal ini, maka ketahuilah, ia bukanlah salafiyah sedikitpun. Sebagaimana yang dikatakan oleh al-Faqih Ibnu Utsaimin rhm :
“Salafiyyah adalah ittiba’(penauladanan) terhadap manhaj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, dikarenakan mereka adalah salaf kita yang telah mendahului kita. Maka, ittiba’ terhadap mereka adalah salafiyyah. Adapun menjadikan salafiyyah sebagai manhaj khusus yang tersendiri dengan menvonis sesat orang-orang yang menyelisihinya walaupun mereka berada di atas kebenaran, maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini menyelisihi salafiyyah!!!”
Beliau rahimahullahu melanjutkan :
“Akan tetapi, sebagian orang yang meniti manhaj salaf pada zaman ini, menjadikan (manhajnya) dengan menvonis sesat setiap orang yang menyelisihinya walaupun kebenaran besertanya. Dan sebagian mereka menjadikan manhajnya seperti manhaj hizbiyah atau sebagaimana manhaj-manhaj hizbi lainnya yang memecah belah Islam. Hal ini adalah perkara yang harus ditolak dan tidak boleh ditetapkan.”
Syaikh melanjutkan lagi :
“Jadi, salafiyah yang bermakna sebagai suatu kelompok khusus, yang mana di dalamnya mereka membedakan diri (selalu ingin tampil beda) dan menvonis sesat selain mereka, maka mereka bukanlah termasuk salafiyah sedikitpun!!! Dan adapun salafiyah yang ittiba’ terhadap manhaj salaf baik dalam hal aqidah, ucapan, amalan, perselisihan, persatuan, cinta kasih dan kasih sayang sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam :
((مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر))
“Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga.”
Maka inilah salafiyah yang hakiki!!!”. (Liqo’ul Babil Maftuuh, pertanyaan no. 1322)
Fadhilatus Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata :
فإذا أردت أن تتبع السلف لا بد أن تعرف طريقتهم ، فلا يمكن أن تتبع السلف إلا إذا عرفت طريقتهم وأتقنت منهجهم من أجل أن تسير عليه ، وأما مع الجهل فلا يمكن أن تسير على طريقتهم وأنت تجهلها ولا تعرفها ، أو تنسب إليهم ما لم يقولوه ولم يعتقدوه ، تقول : هذا مذهب السلف ، كما يحصل من بعض الجهال – الآن – الذين يسمون أنفسهم (سلفيين) ثم يخالفون السلف ،ويشتدون ويكفرون ، ويفسقون ويبدعون . السلف ما كانوا يبدعون ويكفرون ويفسقون إلا بدليل وبرهان ، ما هو بالهوى أو الجهل
“Apabila kamu telah tahu bahwa meneladani salaf itu mengharuskanmu untuk mengetahui jalan mereka, maka tidaklah mungkin kamu bisa meneladani salaf kecuali apabila kamu mengetahui jalan mereka dan memahami manhaj mereka supaya kamu dapat meniti di atas jalan itu. Adapun dengan kebodohan maka tidak mungkin kamu dapat meniti di atas jalan mereka sedangkan kamu bodoh terhadapnya dan tidak mengetahuinya, atau kamu menyandarkan kepada mereka apa-apa yang tidak mereka ucapkan dan yakni, lantas kamu berkata : “ini madzhab salaf”, sebagaimana yang tengah terjadi saat ini pada sebagian orang-orang bodoh, yang menamakan diri mereka dengan salafiyin, namun mereka menyelisihi salaf, mereka bersikap arogan dan mengkafirkan, menfasikkan dan membid’ahkan (siapa saja yang menyelisihi mereka). Para salaf, mereka tidak pernah membid’ahkan, mengkafirkan dan menfasikkan melainkan dengan dalil dan burhan (bukti yang terang), bukannya dengan hawa nafsu dan kebodohan.” (Pengajian Syarh Aqidah ath-Thohawiyah, 1425 H, dinukil dari Kasyful Khola`iq karya al-Ushaimi).
Inilah hakikat dan penjelasan dari para pembesar ulama salafiyin zaman ini. Dan inilah yang seharusnya menjadi tolok ukur penilaian akan manhaj salaf. Bukannya menjadikan penilaian kepada aktivitas sebagian kalangan yang mengklaim sebagai salafiyun namun mereka jatuh ke dalam kesalahan-kesalahan yang menyelisihi manhaj salaf.
Adapun tuduhan salafiyin fanatik terhadap guru-guru, tokoh-tokoh dan ulama-ulamanya, ini juga tuduhan yang tidak benar. Karena salafiy tidak pernah fanatik kepada seorang pun kecuali kepada Rasulullah saw. Adapun fenomena yang ditangkap, tentang adanya sebagian oknum yang mengatasnamakan diri sebagai salafiy, lalu mereka menerapkan al-Wala’ (loyalitas) dan al-Baro’ (disloyalitas) kepada individu tertentu atas dasar fanatisme, maka ini bukanlah manhaj salaf.
Al-‘Allamah Abdul Muhsin al-‘Abbad menukil ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rhm sebagai berikut :
وليس لأحد أن ينصب للأمة شخصاً يدعو إلى طريقته، ويوالي ويعادي عليها غير النبي صلى الله عليه وسلم، ولا ينصب لهم كلاماً يوالي عليه ويعادي غير كلام الله ورسوله وما اجتمعت عليه الأمة، بل هذا من فعل أهل البدع الذين ينصبون لهم شخصاً أو كلاماً يفرقون به بين الأمة، يوالون به على ذلك الكلام أو تلك النسبة ويعادون
“Tidak seorangpun berhak menentukan untuk umat ini seorang figur yang diseru untuk mengikuti jalannya, yang menjadi tolok ukur dalam menentukan wala’ dan bara’ selain Nabi saw, begitu juga tidak seorangpun yang berhak menentukan suatu perkataan yang menjadi tolok ukur dalam berwala’ dan baro’ selain perkataan Allah dan Rasul-Nya serta apa yang menjadi kesepakatan umat, tetapi perbuatan ini adalah kebiasaan Ahli bid’ah, mereka menentukan untuk seorang figur atau suatu pendapat tertentu, melalui itu mereka memecah belah umat, mereka menjadikan pendapat tersebut atau nisbat tersebut sebagai tolok ukur dalam berwala’ dan baro’.” (Majmu’ Fatawa XX:164 melalui perantaraan Rifqon Ahlas Sunnah oleh Syaikh Abdul Muhsin Abbad).
Demikian inilah manhaj Ahlus Sunnah salafiy. Mereka tidak menyeru kepada individu atau perseorangan, betapapun tinggi derajat kedudukannya dan tingkat keilmuannya. Karena al-Haq adalah lebih mereka cintai.
Sekarang saya ingin bertanya kepada al-Ustadz Abduh dan rekan-rekan beliau yang sepemahaman… Apabila istilah salafiy anda katakan muhdats, lantas bagaimana dengan dengan istilah harokah, hizb, tanzhim, ‘amal jama’i, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Jama’ah Tabligh, mursyid ‘am, dan semisalnya??? Bagaimana pula dengan ucapan Syaikh Hasan al-Banna rahimahullahu dan ulama Ikhwanul Muslimin yang sering menggunakan istilah tashowuf dan shufi??? Bahkan bukankah ciri dakwah Ikhwanul Muslimin adalah :
دعوة سلفية ، وطريقة سنية ، وحقيقة صوفية ، وهيئة سياسية ، وجماعة رياضية ، وفكرة اجتماعية
(1) Dakwah Salafiyah, (2) Thoriqoh Sunniyah, (3) hakikat Shufiyah, (4) lembaga Siyasiyah, (5) Jama’ah Riyadhiyah dan (6) Fikrah Ijtima’iyah.
Apakah istilah-istilah di atas, seperti salafiyah (sebagaimana dakwaan al-Ustadz Abduh sendiri), shufiyah, siyasiyah, riyadhiyah dst bukanlah istilah muhdats?!!
Belum lagi istilah-istilah seperti anasyid al-islami, sandiwara Islami, demokrasi Islami, parlemen Islami, sosialisme Islami dan sebagainya yang diperkenalkan istilah-istilah ini oleh Ikhwanul Muslimin. Bagaimana bisa al-Ustadz menyatakan bahwa as-Salafiy adalah muhdats, tidak ada di dalam kamus-kamus mu’tabar terdahulu, tidak pula digunakan oleh para ulama terdahulu (terdahulu = salaf) dan dakwaan lainnya, namun al-Ustadz tidak menyinggung bid’ah yang lebih jelas lagi, semisal hizbiyah Ikhwanul Muslimin dan segala derivatnya…
Semoga Alloh memberikan hidayah dan taufiknya kepada diriku, kepada al-Ustadz Abduh dan kepada kaum muslimin lainnya.
Bersambung -Insya Alloh-
|

4 Komentar:
Akhi Abu Salma...
syukron atas koreksi antum, jazakumullahu khaira wabarakallahu fikum...
tulisan antum ini sangat bagus, tetapi sayang antum terlalu jauh membahasnya. sebelumnya ana minta maaf, jika ada beberapa catatan yang hendak ana berikan.
1. kita mesti membedakan antara berpendapat dan menuduh. antum mengatakan ana menuduh, padahal ana hanya berpendapat yang bisa saja salah dan bisa juga benar.
2. kata "ana salafiy" memang muhdats. tidak usah terlalu jauhlah membahasnya. ana tidak mengatakannya sebagai bid'ah. muhdats di sini adalah sesuatu yang baru yang belum pernah ada pada masa Nabi dan sahabat. baik Nabi maupun sahabat, tidak ada satu pun yang pernah mengatakan "ana salafiy." adapun kalau kita mengatakan "ana salafiy" atau "kulluna salafiy," maka ini adalah penyebutan yang benar. ini bukan bid'ah. antum sendiri kenapa tidak hadir ketika itu sehingga bisa menyaksikan langsung apa yang ana sampaikan tentang makna salaf, salafi, dan salafiyah? akhi, antum hanya mengambil cuplikan peristiwa yang tidak mewakili secara utuh apa yang ana sampaikan. bukankah antum tinggal di malang?
3. nisbat "as-salafiy" yang ana maksud adalah penyertaan kata "as-salafiy" di belakang nama seseorang. hal ini memang tidak pernah terdengar sebelum masa Ibnu Taimiyah. Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab sendiri tidak menyertakan kata "as-salafiy" di belakang nama beliau. meskipun beliau dan para ulama ahlu sunnah lainnya adalah salafiyyun. tidak usah terlalu jauh membahaslah. antum sebutkan saja satu nama ulama sebelum Ibnu Taimiyah yang menyertakan kata "as-salafiy" di belakang namanya. jika ada, berarti ana salah. dan ana otomatis mencabut perkataan ana yang salah. kalau antum hari itu hadir, mungkin antum tidak akan mengatakan demikian. sebab, yang ana tekankan adalah klaim kelompok tertentu yang menganggap diri mereka adalah yang paling salafi sementara yang lain adalah sesat menyesatkan. hal semacam inilah yang dikritik oleh Ibnu Taimiyah, karena bisa memecah belah umat.
4. yang ada dan ma'ruf dipakai ketika itu adalah nisbat madzhab dan tempat. seperti; al-hanafi, al-maliki, asy-syafi'i, dan al-hambali. atau; al-makki, al-madani, asy-syami, al-mishri, dsb. adapun nisbat "as-salafiy" memang tidak ada. jika ada, berarti ana salah. dan otomatis ana cabut perkataan ana yang salah.
5. antum menulis, "Adapun tuduhan bahwa salafiyun mudah menvonis sesat kepada siapa saja yang menyelisihi mereka, adalah tuduhan yang tidak benar. Karena salafiy sejati tidaklah menvonis sesat, bid’ah, fasik bahkan kafir melainkan dengan ilmu dan kehati-hatian."
ini antum tujukan ke siapa? ana sama sekali tidak pernah mengatakannya. ana selalu mengatakan bahwa salafi tidak satu macam. ada yang mengaku-ngaku salafi namun mencederai kesucian salafi, dan ada juga salafi sejati. ana sepakat dengan perkataan antum, "Apabila ada sekelompok kaum yang menyelisihi hal ini, maka ketahuilah, ia bukanlah salafiyah sedikitpun."
6. sebagaimana istilah "ana salafiy" adalah muhdats, demikian pula dengan istilah haroki, hizbi, ikhwani, tablighi, shufi, dlsb. namun, sebagaimana bid'ah punya istilah syar'i dan lughawi, demikian pula dengan istilah muhdats. muhdats yang ana maksud adalah dari sisi lughawi.
7. syukron atas koreksian dan perhatian antum. semoga Allah senantiasa memberikan taufiq-Nya kepada kita semua dalam meniti jalan yang diridhai-Nya. amin.
akhukum fillah,
abduh zulfidar akaha p>
Assalamu’alaykum wa rahmatullah wa barakatuh...
Perlu diketahui bahwa sayalah Hafizh Abdurrahman yg telah mengirim tulisan Pak Abduh(pengarang buku “Siapa Teroris...”)ke e-mail Al Akh Abu Salma. Saya harap Al Akh Abu Salma mau sedikit meluangkan waktunya untuk membaca buku terbaru karya Pak Abduh Zulfidar Akaha yang berjudul “Siapa Teroris...Siapa Khawarij???”, Saya yakin bahwa Al Akh Abu Salma memiliki pendapat yang hampir sama dengan saya. Saya dahulu seorang Ikhwani (=pengikut Ikhwanul Muslimin. Alhamdulillah, saya telah ruju’ kepada manhaj yang haq ini. sekarang saya adalah seorang Salafy. Dan banyak pula cerita maupun pengalaman dari para ikhwah salafiyin yang mirip seperti yang saya alami yakni ketika saya mengikuti dauroh bhs. Arab selama 17hari di jogja, 2bulan yg lalu, diadakan oleh website muslim.or.id), dan saya merasa sesak dada ketika membaca buku karangan Pak Abduh yg lagi naik daun ini(karena banyak digandrungi oleh para harokiyun-hizbiyun model Ikhwani, HT, MMI, Takfiri, dan selainnya yang mana para juru dakwah dan aktivis muslim di Indonesia didominasi oleh manusia model itu. Sebab isinya banyak mendiskreditkan ulama-ulama Salafy yg getol mentahdzir para tokoh hizbiyun-harokiyun yg banyak dibela Pak Abduh melalui buku terbarunya. Alhamdulillah asatidz kami sudah ada yang mengetahui hal ini, dan kabarnya bantahan buku karya Pak Abduh Zulfidar Akaha akan terbit secepatnya. Saya harap Pak Abduh sesegera mungkin menarik dan mengedit bukunya itu sebelum terbit bantahannya yang pasti akan membuat hal yang tidak mengenakkan bagi Pak Abduh Zulfidar Akaha)yang ditujukan untuk membantah tulisan Ustadz Luqman Ba’abduh tapi kok malah turut mencela ulama-ulama ummat yang telah diakui keikhlasan dalam berdakwah dan keluasan ilmunya seperti 2 orang Muhadits yang mulia, Syaikh Muqbil al Wadi’i dan Syaikh Rabi’ bin Hadi bin ‘Umair al Madkhali, juga Syaikh Abdul Malik Ramadhan Al Jazairi. Saya akui bahwa buku karya Ustadz Luqman sedikit membabi buta, asal tuduh seenaknya tanpa bukti, bahkan para usatidz yang mana saya banyak mengambil ilmu dan bermajlis dengannya seperti ustadz Abu Haidar Bandung, Abu Qotadah, Abu Ihsan Medan, Abdul Hakim Abdat, Khalid Syamhudi, Afifi Abdul Wadud, Abu Sa’ad, dll juga tak luput dari tuduhan Pak Luqman. Tapi bila kita mau mencari bukti yang dituduhkan oleh Pak Luqman Ba’abduh kepada para harokiyun-hizbiyun, niscaya kita akan banyak menemui kebenaran akan hal yang beliau tuduhkan. Jadi saran saya sama Pak Abduh Zulfidar Akaha agar mengedit bukunya, dan mengarahkan sanggahan yang ilmiah kepada Pak Luqman Ba’abduh tanpa harus menjelek-jelekan ulama’ dan menjelekkan manhaj salaf dan pengikutnya yakni Salafiyun. Karena dengan demikian, Pak Abduh telah menebar angin...maka bersiaplah untuk menuai badai. Seandainya Para Ulama’ yang saya sebutkan di atas telah berbuat kesalahan(dan memang mereka pasti pernah berbuat kesalahan, karena mereka-hafizhahumullah- tidaklah ma’sum)pasti masyaikh yang berada di dekat mereka jauh lebih tahu dan lebih dahulu memberikan nasehat dan koreksi kepada mereka, karena mereka hidup dalam lingkungan yang penuh dengan ulama’. Anehnya buku Pak Abduh ini malah membela gembong mubtadi’ abad ini seperti Sayyid Quthb yang berpemikiran khawarij tulen(saya dulu juga ta’ashub sama dia lho Pak Abduh, waktu masih Ikhwani), beserta para pembebeknya semisal Safar Hawali, Salman Al Audah, Muhammad Surur, dll. Padahal mereka ini telah ditahdzir oleh para Imam besar Ahlussunnah abad ini semisal Syaikh Al Albany, Syaikh Ibnu Baaz, dan Syaikh Muhammad Al ‘Utsaimin rahimahumullah karena kesesatan dan penyimpangannya yang membahayakan ummat Islam.(kalau bukan mereka ulama ahlussunah bagi kita, lantas siapa ulama ahlussunnah menurut Pak Abduh??? Apakah Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Said Hawwa, Yusuf Qardhawy, Safar Hawali, Salman Al Audah, Muhammad Surur dan yang seperti mereka itu adalah ulama ahlussunnah???). Dan Masih buanyaaak ulama Ahlussunnah yang mentahdzir mereka baik di India, Pakistan, Yordania, Arab Saudi, Mesir, Yaman, Aljazair, dll baik yang sezaman dengan mereka maupun yang datang belakangan. Apa Pak Abduh tidak tahu??? Atau pura-pura tidak tahu??? Sebenarnya manhaj apa yang bapak anut??? Apakah Pak Abduh menganut manhaj Salafush Shalih(yang penisbatannya dinamakan “Salafy”)??? atau manhaj gado-gadonya Hasan Al Banna, yang pokoknya asal bersatu dan menafikan nahyu ‘anil munkar antara satu dengan yang lain dengan alasan akan memecah belah ummat...mau sunni, syi’ah rafidhi, mu’tazili, khariji, smua sama saja??? Atau manhaj revolusionernya Sayyid Quthb yang hobi mengkafirkan pemerintahan muslim yang zhalim lalu mengadakan pemberontakan??? Bahkan memuji orang yang telah membunuh Shahabat yang mulia Khalifah Utsman bin Affan karena orang yang telah membunuh Utsman sesuai dengan pemikiran dan hawa nafsu Sayyid Quthb, jika pemerintah yang menurutnya zhalim, maka otomatis telah kafir dan layak untuk digulingkan dan bahkan layak dibunuh...naudzubillah!!!
Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada Pak Abduh Zulfidar Akaha...
1. Seingat saya, dalam buku “Siapa Teroris...”, Pak Abduh sangat membenci istilah harokiyun-hizbiyun yang sering dilontarkan oleh Pak Luqman dalam bukunya, padahal mereka pun mengakui bahwa mereka(aktifis dakwah model Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, MMI, PKS, dll) mengaku sendiri bahwa mereka adalah aktifis Harokah. Lantas apakah sebutan yang tepat bagi mereka, yang amat ta’ashub akan golongan dan partainya??? Apakah sebutan bagi mereka yang berwala’dan bara’ di atas tokoh, dan golongan mereka??? Mencintai dan setia kepada orang-orang mengikuti kelompoknya, partainya, golongannya, yang didirikan oleh tokoh mereka, memiliki aturan-aturan tersendiri dan memecat/mengeluarkan barangsiapa yang melanggar aturan partainya, golongannya, jama’ahnya, dan membangkang kepada tokoh&pemimpinnya??? Coba bapak Abduh lihat ucapan Hasan Al-Banna pendiri Ikhwanul Muslimin : “Sesungguhnya yang aku maksud dengan pemahaman disini adalah anda menyakini bahwa pemikiran-pemikiran kita adalah Islam yang benar dan anda harus memahami Islam ini sesuai dengan apa yang kami pahami” ["Majmu'atu Rasaail Al-Imam Asy-Syahiid" hal 363], Sa'id hawa mengatakan : “Tidak ada dihadapan kaum muslimin kecuali pemikiran ustadz Al-Banna jika mereka ingin jalan yang benar”[fil aafaaqit ta’aaliim hal.5], juga perkataannya : “Dan kami yakin bahwasanya tidak akan ada jama’ah yang sempurna bagi kaum muslimin kecuali dengan pemikiran Hasan Al Banna.” [Jaulaat fil Fiqhain hal.79]. Wahai Pak Abduh yang mulia, kalau kita lihat ucapan para tokoh IM di atas maka apakah kita tidak merasa kasihan dengan para imam, ulama’ besar Ahlussunnah yang hidup jauh sebelum Hasan Al Banna dan sama sekali tidak mengenalnya??? Jadi pemikiran Islam yang sesuai dengan manhaj Salaf yang dianut oleh para a-immah semisal Imam Mujahid, Imam Qotadah, Hasan Al Bashri, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dll rahimahumullah adalah Islam yang keliru karena tidak sesuai dengan pemikiran Hasan Al Banna??? Lalu apakah sebutan yang tepat selain kata “HIZBIYUN” dan “HAROKIYUN” bagi mereka yang ekstrim dalam kefanatikan atas tokoh dan golongannya saja???
2. Saya membaca komentar Pak Abduh Zulfidar Akaha atas risalah Al Akh Abu Salma kurang lebih : “kita mesti membedakan antara berpendapat dan menuduh. antum mengatakan ana menuduh, padahal ana hanya berpendapat yang bisa saja salah dan bisa juga benar”. Maka saya sarankan kepada Pak Abduh, bila ingin berpendapat maka pertimbangkanlah matang-matang akan dampak yang ditimbulkan dari pendapat yang anda keluarkan tersebut. Atau mungkin Pak Abduh adalah seorang pemuja demokrasi yang meyakini akan bolehnya kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi, dan sebagainya sehingga tidak pandang bulu mau berpendapat yang bagaimanapun selama tidak ada larangan dalam undang-undang pemerintah maka hal itu sah-sah saja??? Bagaimana menurut Pak Abduh jika saya “berpendapat”(mohon maaf sebelumnya, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Bapak) bahwasanya Pak Abduh adalah seorang maling jemuran??? Saya tidak menuduh lho ini...kan saya cuma berpendapat yang bisa saja salah dan bisa juga benar. Maka mesti dibedakan antara berpendapat dengan menuduh!!!
3. Anda mengatakan bahwa istilah “ana salafy” adalah muhdats dari sisi lughawi, akan tetapi apakah anda sudah mengatakan dan menerangkannya dengan jelas dalam buku anda kepada para pembaca dan para hadirin dalam ceramah anda ketika bedah buku itu diadakan??? Ataukah anda sengaja tidak menerangkannya dan membiarkan mereka memahaminya sendiri sehingga mereka ini bila diperdengarkan kata muhdats maka otomatis orientasinya akan menuju pada sebuah makna yakni bid’ah. Dan kata bid’ah, apabila tidak ada keterangan yang mengikutinya otomatis yang bisa ditangkap adalah setiap bid’ah itu sesat...dan Pak Abduh membiarkan konsumen buku karangan Bapak beserta para hadirin acara bedah buku tersebut berkesimpulan bahwasanya Salafy itu adalah bid’ah yang sesat...benarkah pernyataan saya ini wahai Pak Abduh Zulfidar Akaha yang saya hormati???
4. Apa tujuan Pak Abduh mengajak orang-orang hizbiyun-harokiyun macam Fauzan Al Anshori dan Halawi Makmun dari MMI dan Budi Azhari dari PKS yang tentu saja mereka memiliki dendam kesumat dan kebencian setinggi langit kepada Salafiyun, untuk turut memeriahkan dan melariskan bedah buku yang Bapak Karang??? Dan saya lihat, mereka itu -Fauzan Al Anshori, Halawi Makmun dan Budi Azhari- turut memberikan komentar-komentar(baca : celaan)seenak udel mereka kepada Salafiyun dan para ulama’nya. Yang justru hal itu menunjukkan kebodohan dan kejahilan yang murokkab dari ketiga orang tersebut akan manhaj Salaf, akan tetapi mau tidak mau mereka telah berjasa mendampingi Pak Abduh dalam acara bedah buku yang spektakuler bahkan menjadi best seller itu. Lihat saja celotehan Budi Azhari yang berani mengomentari 3 Syaikh yang mulia yang digambarkan bahwa mereka memiliki lisan yang tajam dan kasar(saya katakan : Allahu akbar...inilah akhir zaman ketika seorang awam yang amat jahil akan din berani mengomentari, bahkan mencela para ulama’ yang dikenal hanif dalam manhaj dakwahnya, betapa luas ilmu mereka...akan tetapi telah dikatakan begini dan begitu oleh si jahil!!!)seolah-olah para ulama’ itu tidak tahu tempat dan waktu, pokoknya pukul rata saja...semua layak dikasari bagi 3 Syaikh tadi!!! Yah...mungkin hal ini wajar saja bagi mereka, kalau “Ulama” mereka saja(maksud saya : Sayyid Quthb)berani nyata-nyata mencela shahabat Nabi yang mulia seperti Utsman bin Affan, Muawiyah bin Abi Sufyan, Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhum bahkan berani berkomentar buruk kepada Nabi yang mulia, tyang termasuk ulul azmi yakni Musa ‘alaihissalam apa lagi hanya sekedar ulama, maka untuk mencela ulama’ sangatlah mudah bagi mereka karena “ulama” mereka tadi telah memberi contoh yang amat terpuji dengan mencela shahabat Nabi yang mulia dan Nabi Musa ‘alaihissalam. Lalu si jahil Budi Azhari tadi berceloteh kembali : “Kelompok salafi ini(maksudnya Syaikh Rabi’, Syaikh Muqbil, Syaikh Muhammad Aman Al Jami) mempunyai kelemahan dan kesalahan yang sangat fundamental dalam manhajnya.”, Pak Abduh...di manakah anda saat itu??? Apakah anda di dekatnya tapi pura-pura tidak tahu dan tidak mendengar...seolah hal itu adalah sesuatu yang biasa dan wajar saja!? Kalau ke-3 Syaikh yang mulia tadi dikatakan demikian, lantas celaan apa yang lebih cocok untuk ditamparkan kepada gembong hizbiyah seperti jama’ah Ikhwanul Muslimin yang kau anut itu...wahai Budi Azhari!? Memang benarlah peribahasa “godzilla(kata gajah saya ganti saja, karena itu lebih tepat!)di pelupuk mata tak tampak, kuman diseberang lautan nampak nyata sekali!!!” Lihatlah aqidah Shufi bid’i yang dianut pendahulumu, Hasan Al Banna rahimahullah!!! Dzikir-dzikir thariqat bid’ah yang diamalkannya sampai akhir hayatnya, puasa bisu, hobi tawassul di kuburan wali, hobi merayakan maulidan!!! Bermesra-mesraan dengan Syi’ah rafidhah yang hobi mengkafir-kafirkan para Shahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum, bahkan menganggap mereka ini muslim, hanya beda madzhab saja!!! Apakah dengan demikian, lantas kita katakan Hasan Al Banna adalah ulama’ mujaddid, ahlussunnah sejati, penyelamat ummat dari kehancuran!!! Kalau Pak Abduh membelanya seperti yang termaktub dalam bukunya “apa salahnya belajar Tashawuf!? Para ulama’ ahlussunnah dahulu juga banyak yang mempelajari tashawuf...”, Lantas apakah para ulama’ ahlussunnah yang terdahulu juga mengamalkan wirid-wirid thariqat bid’ah sampai akhir hayatnya? Apakah mereka hobi merayakan Maulidan? Apakah mereka mengamalkan puasa bisu? Apakah mereka hobi ziarah kubur untuk bertawassul? Apakah mereka bermesraan dengan Syi’ah rafidhah atau malah bara’ dan mentahdzir mereka? Atau lihat pemikiran khawarij Sayyid Quthb yang mengatakan seluruh kaum muslimin telah murtad...lantas apakah kita akan berkata : Setuju!!! Pokoknya Sayyid Quthb ini ulama’, perkataannya pasti benar. Ulama besar dia ini...jangan berani-berani membantah, emangnya antum siapa berani membantah Sayyid Quthb!? Wahai Budi Azhari...sekali-kali meleklah!!! Jangan merem terus di tempat yang gelap!!! Pantaslah engkau bersama “Ulama”mu itu kami katakan : “Seperti hewan ternak yang buta, digembala oleh seorang yang buta di atas jalan yang rusak”...Atau peribahasa ini : ”Seorang buta menuntun orang yang melihat, Sungguh tersesat orang yang dituntun oleh si buta”
5. Diamnya Pak Abduh atas komentar(baca : celaan)dari ketiga tokoh hizbiyun-harokiyun Indonesia tersebut menunjukkan bahwasanya bapak ridho akan celaan yang mereka lontarkan terhadap Salafiyun beserta ulama’-ulama’nya. Dengan demikian saya “berpendapat”(saya meminjam istilah Pak Abduh saja biar aman)bahwa Pak Abduh sebenarnya juga memendam kebencian kepada Salafiyun, kepada manhaj salaf beserta para ulama’nya akan tetapi Pak Abduh nggak brani mengeluarkan uneg-uneg anda selama ini, toh sudah diwakili mereka bertiga yang jelas-jelas muak dengan Salafiyun, manhaj Salaf dan para ulama’nya. Oleh karena itu saya mau bertanya, jawablah dengan jujur...apakah Pak Abduh juga membenci Salafiyun, manhaj Salaf beserta ulama’-ulama’nya??? Apakah “pendapat” saya di point ke lima ini benar???
Mungkin ini dulu hal yang bisa saya sampaikan. Karena saya harus menempuh ujian tengan semester minggu ini, semoga Allah memberi kemudahahn. Kurang-lebihnya saya mohon maaf yang sebesarnya, terutama pada Pak Abduh Zulfidar Akaha dan para pembaca risalah saya ini. InsyaAllah nanti kita sambung lagi. Saya ucapkan terimakasih banyak kepada Al Akh Abu Salma yang telah berkenan untuk memberikan klarifikasi mengenai syubhat-syubhat yang dilontarkan kepada kita, Salafiyun. Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuknya kepada kita, kepada saya, kepada Al Akh Abu Salma, kepada Pak Abduh Zulfidar Akaha, dan kepada seluruh kaum muslimin. Segala puji bagi Allah, dan semoga shalawat dan salam selalu terlimpah kepada Nabi kita yang mulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Wassalamu’alaykum wa rahmatullah wa barakatuh...
Catatan :
Bahwasanya ada seorang yang amat dungu dan sombong akan kebenaran bernama Farid Nu’man, pengarang buku yang isinya amat buruk dan penuh dengan talbis berjudul “Al Ikhwan Al Muslimun Anugerah Allah Yang Terzhalimi”, dan buku tersebut telah dibantah dengan telak oleh Al Akh Andy Abu Thalib sebanyak 2jilid besar, diterbitkan oleh Darul Qolam dengan judul “Menyingkap Syubhat dan Kerancuan Ikhwanul Muslimin”. Saya kira dengan adanya bantahan buku tersebut, Farid Nu’man ini akan ruju’ kepada kebenaran dan meninggalkan manhajnya yang batil, akan tetapi kenyataannya dia malah makin getol menebarkan syubhat dan kebodohannya dengan menjadi kontributor sebuah majalah bernama “Tatsqif”. Di sana ia menjadikan buku karya Pak Abduh Zulfidar Akaha sebagai senjata pamungkas untuk menyerang Salafiyun!!! Bahkan dengan jahilnya, ia(Farid Nu’man) berani menyarankan pembaca untuk merujuk kepada bukunya yang sesat dan menyesatkan itu...apalagi sudah kadaluwarsa dan terbantah. Akan tetapi orang yang sedikit berilmu pun pasti tidak akan tertipu. Akan tetapi saya tetap berharap agar saudara Farid Nu’man ini mendapat hidayah oleh Allah subhanahu wa ta’ala, semoga suatu saat ia mau meruju’ kepada al haq, dengan mengikuti manhaj salaf. p>
Sebagai tambahan, ada bantahan juga dari Ustadz Muhammad Arifin Badri & Ustadz Firanda Andirja terhadap buku ustadz abduh zulfidar akaha ini, diwebsite www.muslim.or.id. ada 9 bagian.
bag.1 website:
http://muslim.or.id/2007/01/19/meluruskan-sikap-dan-menepis-syubhat-1/ p>
Sebagai tambahan, ada bantahan juga dari Ustadz Muhammad Arifin Badri & Ustadz Firanda Andirja terhadap buku ustadz abduh zulfidar akaha ini, diwebsite www.muslim.or.id. ada 9 bagian.
bag.1 website:
http://muslim.or.id/2007/01/19/meluruskan-sikap-dan-menepis-syubhat-1/ p>
Post a Comment
<< Home